Ode Kita)
Djenaar, bukankah lama luka itu menjadi milik kita? sepotong yang lalu kita nikmati berdua. Purnama suram itu lekang juga
akhirnya. Hingga kapan
euphoriamu kan berakhir? khayalku telah usai lama bersama tumbuhnya
bulan baru, sebab aku tlah
letih bersama luka yang dulu
kita gurat bersama. Naar, purnama suram itu telah hilang tertelan waktu. hijau dan ungu__
tentang luka dan purnama itu rianda, terlalu nyaris untuk aku narasikan
menjadi sajak
biar kau gurat kata-kata indah bermetafor, terlalu naif bila darah yang mengalir di jantung aku tumpahkan di kertas yang kau basahi dengan air mata. Aku tahu, kau ingin sembuh dari kecanduanmu pada luka. dan lebih lagi aku, serasa ingin terkubur di bawah pohon tilia bersama Majnun!
tidakkah gelisahmu
itu sudah ada sejak beberapa waktu silam, sejak kau terbiasa bercakap apa saja
dengan bulan sabit? dan sudah banyak waktu dan tempat kau jadikan persaksian
meski tanpa monumen atau prasasti, untuk manjadi dirimu sendiri dengan siapa
saja yang kau adakan dalam dirimu.
Yogyakarta, Oktober 2010
Sebelum Kau Pergi Tiba Tiba
(Kembali)
1.
si bengal hitam! ya, dia yang masih misteri di ujung
kukumu. seperti aku yang nakal mengenal warna jemari lancipmu_ ah, kita tidak
boleh begitu_sebab labirin selalu sigap menangkap jejak!
2.
impian dan harapan tak selamanya indah, laiknya bebunga
dan matahari yang kapan saja bisa layu. Rianda menghilang setelah tidur
sebentar. Tidak
pulang-pulang.
3.
perempuan yang tak pernah aku pahami. Penari dalam
imajinasi jalangku, biarlah kata-kata hilang bersama angin dendam, bukankah kau
masih punya kekuatan untuk terkenang. bila rasa hendak menangis, luapkanlah,
biarlah air mata mengalir mencari genangan menemu kenangan dalam ingatan.
Yogyakarta, agustus 2010
Setelah Kau Kembali (Pergi)
bukan sabutir purnama masalahnya, bukan pula kucing hitam bengal nakal
tapi rahasia yang tak seutuhnya tersembunyi rapi_
tapi rahasia yang tak seutuhnya tersembunyi rapi_
aku suka si bengal hitam, aku tak tau apa yang
tersembunyi__ aku mencari
sesuatu yang masih misteri_
sebab kita
sama-sama tahu, bahwa cinta adalah luka sederhana yang perih luar biasa__ maka
dengan luka aku menuju hatimu__
Yogyakarta, april 2010
Demi Masa
; keyakinan ini masih belum sepenuhnya
tersepakati hati, nurani dan akal bahkan
setajam lidah yang fasih mengerat kalimat kalimat
syahdu sendu, tumpul oleh waktu
yang sublium dalam rindu yang beludru. Pertanyaan
gombal berselubung
dalam syaraf otak, mengikat sepasang bibir kaku
terpaku pernyataan absurd
pada setiap jengkal terjagal pilihan hidup yang
ambigu
;tidak selamanya sepi sunyi sebatas kesendirian
tampa suara dan bunyi. Hakikatnya
adalah raga tertinggal segenap jiwa menemui sukma
nun jauh dari pandang mata,
bahkan bukan tanpa kesadaran melainkan keyakinan
harap dan impian
ingin
kutakar waktu berdua biar tak lagi ada angin cemburu lesat di benak
laiknya
mula asal kau aku bertemu dalam ragu dengan kekakuanku
menyapa-bersitatap
di bawah pohon akasia; bulan tampak kebiru biruan
lantas
kesadaran mengajariku menghargai kesetiaan sebagaimana engkau
mengakrabi
dengan sambil tersenyum manyun dan aku hanyut oleh cerita lukamu
;sebelas tetes air mata tumpah setelah kau
berkabar sakit, dan kau berpura tak ada;
memintaku tak kembali hanyut, pun aku kembali
sendiri bahkan kian dalam, tenggelam.
Sehabis kata, kau malah tersenyum setelah kau
bilang tak terjadi apapun. Namun kenapa
Kau isyarati aku dengan sembilan tanda yang
serupa. Bicaralah biar aku tahu sesuatu,
walau sedikit aku paham tentangmu bahkan melebihi
pengertianku pada diriku sendiri
Yogyakarta, 15/18/21,
November 2010
Benang Merah Warna
/benang/ siratan titah terkambang dalam genang nira cakrawala
Usai kau ikrarkan gendam asmara lewat mantra kehidupan
Dengan orkestra kematian
/merah/ sinar
memar tergurat pena. Matahari tenggelam. Arwah kematian bertembang
syair kerinduan
/warna/ langit berselendang. pelangi haus rebahi
danau; di muara, sungai bersetubuh
_anak bangau belajar mencelup setengah paruh
Madura-Yogyakarta, Juli ’08-
Desember ‘10
(Ber) Senandung
/I/ kembang mayang hatimuhatiku masihkah alirkan nira
Di bibir cahaya pada gelap
/II/ do’a yang terpanjatkan adalah kebajikan hamba pada Tuhannya
Usah kau harap cinta menjadi cahaya jika enggan nyalai pelita
Sebab cinta mencintai; cinta sebuah dosa:
Berawal dari senyum dan kedip pahit lebur dalam manis yang nyaris
Kau aku terbuai hingga candu rindu nelangsa
tentang hakikat makna, bibir tak kelu menafsir gelap dan purnama
Bahkan tak akan tersiaka waktu mengeja hari dan matahari
Setelah sekian, segala bertepi di peralihan sunyi
/III/ sepenggal kalimat sumpah bergetar ketika cinta menjerit tampa arti
Ingin aku menyapa hati dan melunasi janji
Namun waktu tergesa menggiring hidup dan kehidupan sejati
/IV/ sudah kubilang jangan kau lakukan, masih saja kau tak mahu tahu
Bahkan tak kau gubris, kau anggap aku ini apa?
Gonggongan anjing di malam kelam? Rupanya matamu kian geram.
Baiklah, sekejap kedip aku akan raib dari hidupmu
Sepanjang jalan kau aku, 2008-2010
Pun (di) Warung Kopi
Kemarilah minum kopi di meja yang sama untuk saling bertukar cerita lama,
cerita bangsa terjajah (yang katanya merdeka, masih sengsara)
marilah kita bersulang untuk saling menikmati dinginnya
malam purnama
di tengah tangis jerit rakyat jelata di negeri sendiri yang tinggal nama
biarlah mereka berpesta
istana, menikmati kemegahan atas nama bangsa.
namun sehabis kita nikmati manisnya
kopi, mari kita bangun bersama
untuk berteriak, "LAWAN!"
demi bumi pertiwi. Di sini kita lahir dan punya nama
Yogyakarta, Juli 2010
Perahu dan Labuhan
Semu
angin pekabar tanpa musim menyapa
mendayung perahu ke tengah samudra seribu rindu
air laut lebur dalam asin air mata
membuat cerita melukis derita
tentang cinta yang buta
terhempas di pelabuhan tua tak bersejarah
lantaran kompas yang terlepas genggaman
hati gamang melempar kail kenangan
jauh sauh tak terbayang
entah kemana ragamu menghilang
sedang impian yang tersirat di tepian
rapuh di malam persaksian
raib bersama kelam bintang-bintang
aku terenyuh menatap hati terpatri sunyi
sepi yang berdesah dengan nafas sengau
dan labuhan tak mau bicara padaku
pada perahu yang berlabuh
demi rindu rianda, yogyakarta 13 november 201


07.14
prasasti selendang
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar